Atasi Krisis Ekologi, Masyarakat Didorong Terus Bersahabat dengan Alam
Sabtu, 30 Agustus 2025 | 10:00 WIB

Aktivis Agraria, Noer Fauzi Rachman dalam acara Konferensi Pemikiran Gus Dur dan Temu Nasional Jaringan Gusdurian di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur pada Jumat (29/8/2025). (Foto: dok. Gusdurian)
Jakarta, NU Online
Konferensi Pemikiran Gus Dur tentang keadilan ekologi, mengingatkan kembali pentingnya manusia untuk bersaudara dengan alam di tengah ancaman krisis ekologi. Hal itu disampaikan Aktivis Agraria, Noer Fauzi Rachman dalam acara Konferensi Pemikiran Gus Dur dan Temu Nasional Jaringan Gusdurian di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur pada Jumat (29/8/2025).
“Kita ini perlu saling mengingatkan, seperti melalui diskusi-diskusi seperti ini, bahwa alam adalah saudara kita yang juga perlu dijaga, dirawat,” ujarnya.
Ozi, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa saat ini manusia yang digadang-gadang sebagai makhluk yang bermartabat dan berakal justru menjadi pihak yang paling banyak merusak bumi. Hal ini berbanding terbalik dengan hewan yang justru menjaga alam dan keseimbangan ekosistem.
Ia menyampaikan bahwa konsep Rahmatan Lil 'Alamin dengan bersaudara dengan alam, yakni dengan memperlakukan dan menjaga alam sebagaimana saudara sendiri.
Senada dengan hal itu, Pembina Pondok Pesantren Al-Musaddadiyah Garut, KH Tantowi Jauhari Musaddad menyampaikan bahwa dengan menjaga alam merupakan bentuk kasih sayang terhadap sesama ciptaan Allah.
“Jika kita ingin mendapat rahmat Allah, salah satu jalannya adalah menyayangi sesama ciptaan-Nya,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selalu mengedepankan nilai kemanusiaan dalam berbagai bentuk, termasuk menjaga alam.
“Lingkungan adalah bagian dari manusia, karena itu, melestarikan lingkungkungan adalah memanusiakan manusia” ujar Kiai Tantowi.
Sementara itu, Aktivis Lingkungan, Nissa Wargadipura menyampaikan bahwa implementasi pendidikan perlu mengedepankan pembangunan karakter melalui kearifan lokal yang berpadu dengan nilai-nilai Islam serta budaya.
“Ternyata saat dipadukan dengan Green Islam bisa bertemu dalam wilayah ekosistem. Yang awalnya kesulitan belajar tentang pengelolaan lingkungan lewat kitab-kitab kuning. Agama bisa mengorganisir dalam hadis dan Al-Quran melalui Ijtima’,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa banyak pemikiran ulama yang sejak dahulu mengkombinasikan aspek keimanan dengan kepedulian terhadap alam. Menurutnya, di era sekarang, banyak masjid telah menerapkan penghijauan melalui penanaman pohon dan mengelola air wudhu.
“Ketauhidan salah satunya dengan menerapkan bahwa alam, termasuk menanam pohon, ini adalah bagian dari syahadat kita,” tutur Nissa.